Boleh aku memanggilmu Arana ?. Iya, itu bukan nama dagingmu, itu cuma rapalan buat ngilangin ngantuk.
Jangan marah karena nama itu buat ngusir ngantuk. Lebih baik kamu duduk manis baca sebentar nama angin ini, lalu pergi. Entah maumu kemana, yang jelas jangan diingat hari ini.
Arana itu nama jepang, artinya bulan. Jangan ge er, kamu gak seperti bulan. Dan aku gak membandingkan kamu sama bulan. Hanya ingin memanggilmu dengan nama itu. Semoga cocok.
Jangan takut gak nyaman sama nama itu, aku gak akan pernah memanggilmu dengan nama itu kalau kita ketemu. Sekali ini saja kok Ar, toh setelah kamu selesai baca, semuanya selesai.
Sudah ya, jangan mikir macam macam, aku baik baik saja, lain kali aku gak akan memberatkanmu dengan tetek bengek buat ketemu.
Aku punya dunia baru kok, mungkin itu bukan tempatmu, dan aku yakin kamu gak betah disana. O iya, aku sematkan grafity disalah satu tembok kamarku.. Cuma sekedar penghilang suntuk.
Oke Ar ? Baik baik y.
Malesmelek
monyethgilamarahsekali
Kamis, 22 Januari 2015
Jumat, 04 Juli 2014
Sebuah Pilihan
Sangat
wajar jika kita dihadapkan pada sebuah pilihan, dan berusaha
mempertahankan pilihan yang berdasar keyakinan. tidak memilih atau
golput termasuk dalam hak untuk memilih sebagai anggota dari komunitas
yang kita miliki. lebih baik memilih karena sebuah keyakinan meskipun
pada akhirnya itu sebuah pilihan yang salah dari pada hanya terpengaruh
sesuatu yang menjadi bahan saling serang kemudian memilih tanpa memiliki dasar yang jelas.
lebih buruknya, dalam usaha mempertahankan pilihan justru ikut arus saling menjatuhkan satu sama lain tanpa memandang perbedaan.
seperti orang purba yang tidak mengenal peradaban, sesuatu yang ada yang dianggap buruk kemudian akan disingkirkan atau dibasmi tanpa tahu maksud keberadaannya.
Kesalahan atau kekurangan dianggap sebagai bentuk tidak sempurna yang harus dihindari, sebuah kecacatan yang teramat sangat.
saya hanya merasa, serangan-serangan yang dilakukan oleh salah satu kubu oleh perseorangan atau kelompok adalah sebuah usaha membuat zona nyaman bagi kehidupannya sendiri, menghindari iklim ekstrim yang tidak ingin ia atau mereka hadapi. katakanlah seperti itu.
Kalau mau menyalahkan, bukankah keberadaan kita karena sebuah kesalahan ?
Adam dan Hawa melahirkan anak-anaknya di bumi karena melanggar aturan Tuhan. Kemujuran, kenyamanan, kesuksesan atau apalah, apakah itu murni sebuah usaha baik yang terus menerus kita lakukan selama ini ? apakah usaha itu juga memberikan dampak positif bagi orang-orang disekitar kita ?
apa kita hanya mengandalkan mereka berdua untuk bertahan hidup di negara yang masih meraba-raba akar sejarah dan kejayaannya dimasa lalu, dan berusaha mewujudkan kejayaan itu kembali ?
satu hal kecil yang kita lakukan akan berdampak besar pada ekosistem itu, entah langsung atau tidak langsung. setiap orang memiliki tujuan yang baik bagi dirinya dan orang lain.
Salut untuk Jokowi dan Prabowo yang mau naik ke pentas dunia dengan membawa kebaikan dan keburukannya masing-masing.
maka pahami perbedaan itu sebagai sebuah pilihan demi kebaikan yang ingin kita capai atau sebagian orang yang menaruh harapan besar pada pemimpin yang akan terpilih.
lebih buruknya, dalam usaha mempertahankan pilihan justru ikut arus saling menjatuhkan satu sama lain tanpa memandang perbedaan.
seperti orang purba yang tidak mengenal peradaban, sesuatu yang ada yang dianggap buruk kemudian akan disingkirkan atau dibasmi tanpa tahu maksud keberadaannya.
Kesalahan atau kekurangan dianggap sebagai bentuk tidak sempurna yang harus dihindari, sebuah kecacatan yang teramat sangat.
saya hanya merasa, serangan-serangan yang dilakukan oleh salah satu kubu oleh perseorangan atau kelompok adalah sebuah usaha membuat zona nyaman bagi kehidupannya sendiri, menghindari iklim ekstrim yang tidak ingin ia atau mereka hadapi. katakanlah seperti itu.
Kalau mau menyalahkan, bukankah keberadaan kita karena sebuah kesalahan ?
Adam dan Hawa melahirkan anak-anaknya di bumi karena melanggar aturan Tuhan. Kemujuran, kenyamanan, kesuksesan atau apalah, apakah itu murni sebuah usaha baik yang terus menerus kita lakukan selama ini ? apakah usaha itu juga memberikan dampak positif bagi orang-orang disekitar kita ?
apa kita hanya mengandalkan mereka berdua untuk bertahan hidup di negara yang masih meraba-raba akar sejarah dan kejayaannya dimasa lalu, dan berusaha mewujudkan kejayaan itu kembali ?
satu hal kecil yang kita lakukan akan berdampak besar pada ekosistem itu, entah langsung atau tidak langsung. setiap orang memiliki tujuan yang baik bagi dirinya dan orang lain.
Salut untuk Jokowi dan Prabowo yang mau naik ke pentas dunia dengan membawa kebaikan dan keburukannya masing-masing.
maka pahami perbedaan itu sebagai sebuah pilihan demi kebaikan yang ingin kita capai atau sebagian orang yang menaruh harapan besar pada pemimpin yang akan terpilih.
Senin, 23 Juni 2014
Semalam yang cepat selesai untuk kita.
Terlalu singkat waktu yang kau berikan malam tadi untuk kita. Kau cepat tertidur tanpa banyak bicara. Hanya ada aku dan kekhawatiran yang mulai menjadi.
Pagi ini aku masih tertidur ketika pesan pendekmu nyampe di kotak masuk, sebuah permintaan untuk menjemputmu, lalu mengantarmu ke kampus. Tapi gag bisa aku penuhi karena mataku masih berat untuk dibuka.
Pulang kuliah, kau melanjutkan pekerjaanmu merawat anak-anak kecil. Menjadi ibu asuh bagi mereka selama satu hari. Beruntungnya, pekerjaan ini sesuai dengan jurusan yang kau ambil. Dan beliau, kepala sekolah memuji pekerjaanmu yang sangat baik, berharap suatu hari nanti kau dapat menggantikannya di sekolah cabang yang baru. Kalian memulai suatu hari diwaktu lalu dengan cita-cita yang besar. Sungguh aku pun mengharapkan demikian.
Sudah sejak pagi ini sesuatu yang abstrak itu mulai berwujud...
Ketika bangun, aku membaca pesan pendekmu tadi pagi. Kamu dimana sekarang ? aku jemput ya, itu balasku. Tapi tidak ada satu pesan yang aku terima. Aku coba telepon tapi tidak ada jawaban, beberapa kali aku melakukannya dan hasilnya sama. Aku bingung. Dalam perjalananku menebak keberadaanmu ternyata kau membalas pesan kebingunganku. Kau sedang istirahat di kos salah seorang temanmu. Aku mendatangimu. Lalu kau meminta mengantarmu ketempat kerjamu biasanya. Perasaan bersalahku tidak bisa mengantarmu kuliah dan membuatmu kecewa membuatku " hari ini aku harus bisa berhasil membuatmu tidak marah lagi.." seperti itu. Kekhawatiran akan sesuatu yang tidak pasti, yang mulai mengganggu sejak kemarin, justru membuatmu menjadi kesal dan marah. Justru disini aku tidak tahu apa salahku...aku sudah terbiasa menunggumu didepan tempat kerjamu, beberapa waktu sebelum jam kerjamu selesai, atau berdiri sesaat mengintipmu dari balik tembok ketika kau mengadu rasa ingin bertemu, meskipun jam kerjamu belum hampir selesai. Tapi kali ini, entah kenapa berbeda.
Menginjak malam jam kerjamu hampir habis. Aku sudah setia menunggumu dibalik gerbang. Satu persatu murid pulang dijemput orang tuanya, satu persatu rekan kerjamu mengantar kepulangan mereka. Dan kau hanya diam meski aku ada didepan pintu gerbang menunggumu seperti biasa.
Sedikit lega ketika akhirnya jam kerjamu selesai. Bagiku, ini kesempatan ku bertanya apa yang sedang terjadi yang membuatmu berubah dalam dua hari ini, pikirku. Aku hanya ingin menebus entah apa yang terjadi hari ini yang membuatmu seperti kecewa dan marah. Semoga kau tersenyum lagi dan yang terjadi hari ini hanyalah keusilanmu saja, menggodaku dengan aktingmu.
Dikosnmu..
Aku pikir kita memang belum siap untuk pacaran. Lebih baik kita berteman seperti dulu, meskipun tidak akan pernah bisa sedekat dulu. Aku tidak akan kemana-mana, ketika kau butuh kau bisa mendatangiku, lalu kau bisa bercerita. Aku hanya ingin membangun satu kesempatan baru dalam hidupku. Membanggakan orang tua, terutama ibu. Aku pikir selama ini kita salah. Jujur aku sangat kecewa denganmu, sangat kecewa. Dan aku menyesal akan semuanya. Kita sama-sama salah......Mungkin suatu hari kita bisa balikan lagi, mungkin...Aku minta maaf. jawabmu..
hari akhir satu tahun. ..
Pagi ini aku masih tertidur ketika pesan pendekmu nyampe di kotak masuk, sebuah permintaan untuk menjemputmu, lalu mengantarmu ke kampus. Tapi gag bisa aku penuhi karena mataku masih berat untuk dibuka.
Pulang kuliah, kau melanjutkan pekerjaanmu merawat anak-anak kecil. Menjadi ibu asuh bagi mereka selama satu hari. Beruntungnya, pekerjaan ini sesuai dengan jurusan yang kau ambil. Dan beliau, kepala sekolah memuji pekerjaanmu yang sangat baik, berharap suatu hari nanti kau dapat menggantikannya di sekolah cabang yang baru. Kalian memulai suatu hari diwaktu lalu dengan cita-cita yang besar. Sungguh aku pun mengharapkan demikian.
Sudah sejak pagi ini sesuatu yang abstrak itu mulai berwujud...
Ketika bangun, aku membaca pesan pendekmu tadi pagi. Kamu dimana sekarang ? aku jemput ya, itu balasku. Tapi tidak ada satu pesan yang aku terima. Aku coba telepon tapi tidak ada jawaban, beberapa kali aku melakukannya dan hasilnya sama. Aku bingung. Dalam perjalananku menebak keberadaanmu ternyata kau membalas pesan kebingunganku. Kau sedang istirahat di kos salah seorang temanmu. Aku mendatangimu. Lalu kau meminta mengantarmu ketempat kerjamu biasanya. Perasaan bersalahku tidak bisa mengantarmu kuliah dan membuatmu kecewa membuatku " hari ini aku harus bisa berhasil membuatmu tidak marah lagi.." seperti itu. Kekhawatiran akan sesuatu yang tidak pasti, yang mulai mengganggu sejak kemarin, justru membuatmu menjadi kesal dan marah. Justru disini aku tidak tahu apa salahku...aku sudah terbiasa menunggumu didepan tempat kerjamu, beberapa waktu sebelum jam kerjamu selesai, atau berdiri sesaat mengintipmu dari balik tembok ketika kau mengadu rasa ingin bertemu, meskipun jam kerjamu belum hampir selesai. Tapi kali ini, entah kenapa berbeda.
Menginjak malam jam kerjamu hampir habis. Aku sudah setia menunggumu dibalik gerbang. Satu persatu murid pulang dijemput orang tuanya, satu persatu rekan kerjamu mengantar kepulangan mereka. Dan kau hanya diam meski aku ada didepan pintu gerbang menunggumu seperti biasa.
Sedikit lega ketika akhirnya jam kerjamu selesai. Bagiku, ini kesempatan ku bertanya apa yang sedang terjadi yang membuatmu berubah dalam dua hari ini, pikirku. Aku hanya ingin menebus entah apa yang terjadi hari ini yang membuatmu seperti kecewa dan marah. Semoga kau tersenyum lagi dan yang terjadi hari ini hanyalah keusilanmu saja, menggodaku dengan aktingmu.
Dikosnmu..
Aku pikir kita memang belum siap untuk pacaran. Lebih baik kita berteman seperti dulu, meskipun tidak akan pernah bisa sedekat dulu. Aku tidak akan kemana-mana, ketika kau butuh kau bisa mendatangiku, lalu kau bisa bercerita. Aku hanya ingin membangun satu kesempatan baru dalam hidupku. Membanggakan orang tua, terutama ibu. Aku pikir selama ini kita salah. Jujur aku sangat kecewa denganmu, sangat kecewa. Dan aku menyesal akan semuanya. Kita sama-sama salah......Mungkin suatu hari kita bisa balikan lagi, mungkin...Aku minta maaf. jawabmu..
hari akhir satu tahun. ..
Minggu, 22 Juni 2014
Sesuatu itu terjadi
Hari ini dirimu dirumah. 2 hari lalu kau mengeluh
kau ingin pulang, kangen dengan keluargamu, terutama adek kecilmu yang masih 7
tahun. Sudah beberapa minggu kau tidak
pulang, sibuk dengan tugas dan praktikum kuliah. Itu lebih baik, pulang lah
jawabku.
Kemarin aku mengantarmu ke terminal. Ditengah perjalanan ada hujan yang menunggu. Kita berteduh di warung bakso pinggir jalan dekat pasar besar dikota kita ini. Seperti biasa, kita selalu melewatkan kesempatan dalam kesempitan seperti ini dengan bercanda. Hujan enggan untuk beralih tempat, kau memaksa untuk berangkat daripada kemaleman nyampe rumah. Baiklah..
Beruntung, hujan tidak terlalu deras ketika dekat dengan terminal. Setidaknya kau tidak basah kuyup seperti anak kucing masuk bak mandi. “Ati-ati dijalan, kalau sudah sampai jangan lupa kabari aku “ pesan yang selalu aku sampaikan ketika kita berpisah diterminal.
Lebih baik aku juga segera pulang kerumah, beberapa
hari kantongku sudah tipis. Selain itu, ibuk juga menyuruhku untuk pulang.
Aku menunggu hingga malam tapi belum ada kabar darimu, biasanya kau selalu mengirim satu pesan pendek ketika sudah sampai di pintu palang kereta api. Tempat biasa kau dijemput sama bapak atau kakakmu. Aneh, berulang kali aku menghubungimu tapi tidak ada respon. Aku biarkan saja handphone diatas meja.
Malam sudah hampir larut, tiba-tiba kau merespon
pesan ku. Kau hanya bilang, sejak dari tadi hp mu dipegang ariel, adik
kesayanganmu untuk maen game. Kau mengobrol banyak dengan keluargamu, katamu,
mumpung lagi ngumpul dengan nenekmu dan saudara-saudaramu yang lain. Aku minta maaf sudah marah, jawabku. Aku
hanya khawatir saja karena kau bersikap tidak seperti biasa.
Sesuatu itu, seperti tidak biasa datang menjadi rasa yang tidak mengenakan....
Tidak ada kelanjutan seperti malam-malam biasanya. Kita hanya berhenti sampai pada pengakuanmu tentang kau yang tidak sempat menghubungiku ketika sampai dirumah. Sesuatu itu mulai terasa lagi..
Hari ini kita tidak banyak bicara. Sudah sejak tadi pagi aku menghubungimu, tapi tidak ada jawaban. Kau hanya sekali menjawab hpmu lagi-lagi dibuat maenan Ariel. Satu pesan pendek setelah itu menguatkan kekhawatiranku. Kau sudah berada didalam bis, dalam keberangkatanmu ke kota ini. Biasanya kau selalu berpamitan sebelum kau berangkat, agar aku bisa menjemputmu tidak telat waktu.
Aku masih dirumah. Keputusanmu membuatku berangkat lebih awal untuk menjemputmu. Kau selalu merasa sebal kalau aku telat menjemputmu, meskipun dalam hitungan menit akan kembali mencair. Seperti kemarin, hari ini hujan sudah bangun lebih awal.
Diterminal, kau menghampiriku dengan wajah yang lain. Wajah yang kebingungan, wajah yang menampakkan seolah kau tidak ingin hari ini aku tidak datang menemuimu, wajah yang menyiratkan kau ingin menikmati hujan ini sendirian. Jarak yang menyimpulkan, sesuatu itu akan segera terjadi..
Kau mengeluh kepalamu pusing, hanya ingin segera tiduran dikosn. Kau memaksa menembus rimba hujan, dan jarak yang kau buat menambah tanda tanya dalam pikiranku. Didepan kosmu, begitu saja kau menyuruhku pulang, segera ganti baju biar tidak sakit. Aku hanya mengiyakan permintaanmu.
Sejak sore aku berusaha menghubungimu, lagi-lagi
suasana menjadi dingin seperti kemarin. Sampai waktu beranjak malam, kita
menghabiskan kata sepengal-sepenggal. Biasanya kau menyuruhku mengapelimu dan
membawa sebungkus makan untuk kita berdua. Itu pintamu hampir setiap malam.
Kata-kata menjadi sangat bermakna biasanya, bercerita tentang apa saja, tentang
malam, hujan, sawah, impian, harapan.. semua hal menjadi manis ketika rasa adalah
dasar yang kita gunakan untuk berbicara. Malam ini, tidak sama seperti
malam-malam itu..
Sabtu, 21 Juni 2014
Episode ketika itu..
Terkadang aku sangat membenci sebuah pertemuan. Ketika hal
itu terjadi dalam kebersamaan. Dua, tiga, empat atau bahkan lebih banyak lagi
orang-orang. Kenangan tetaplah kenangan.
Sebuah photo memberiku kesempatan memanggil kenangan lama, bahwa pernah ada suatu moment yang pernah ada dan tidak akan terulang lagi. Satu persatu seseorang akan terus berjalan maju, meninggalkan banyak rekaman yang pernah ia buat. Membuat suatu masa depannya sendiri. Apakah pernah kita terus mengingat setiap jejak yang telah lalu.. perlahan akan menghilang.
Sungguh, kesempatan-kesempatan seperti itu memberikan cukup kebahagiaan, saat bergantian juga akan memberikan kesakitan.
Suatu waktu seseorang akan bercerita kembali tentang kenangannya, satu persatu akan dicoba diruntut secara detail.
Aku pernah ada dalam kenangan itu. Orang akan berkata “ itulah kenangan, maka buatlah kenangan yang lain, pengalaman lain yang lebih seru, lebih bermakna untuk di ingat. “
Langganan:
Postingan (Atom)