Rabu, 29 Januari 2014

Tawa Kecil Yang Hilang

sulit untuk memulai menulis catatan kecil ini.
karena aku memulainya dengan kebingungan, aku belum menemukan kebenaran dan kejujuran "itu"
dulu. masih mampu untuk berpegang pada komitmen yang aku sudah aku ciptakan.
ketika aku mampu menyusun helaian-helaian sayap untuk aku terbang
ada tawa-tawa kecil yang mengiringi dengungan hari kutanpa aku menoleh pada suara kecil itu
aku bahagia. aku berdiri menjagamu.
Icarus. kerakusan, ketidakpuasan mulai menjadi pelembab untuk menghadapi keringnya hari-hari itu
hari ketika pernah ada kata-kata manis yang terucap, yang menyusun bahagiaku untuk terus terbang
ketika ada bentuk belaian yang aku anggap dari hati. Hilang.
Hilang terpupus kerakusan. itu bukan dari hati yang aku pernah sadari. itu hanya keakraban yang kau miliki.
Labirin. selalu berulang 1 jeda waktu tawa dan tangis dan kemarahan dan penyesalan.
ketika aku mendengar lagi tawa-tawa kecil itu, pun aku menolehnya
Labirin itu hancur. lukisan-lukisan hati menjadi tampak terang, terukir senyuman-senyuman peri kecil taman Firdaus.
tanpa pernah aku menoleh lagi dibalik bekas labirin. ada jejak bayangan kecil.
yang mengendap pekat.
Tertatih mungkin tidak, hanya berjalan pelan menyusuri hari-hari yang tersibukkan dengan perasaan tentang mu...........................................................

Menembak Keabstrakan

seketika menjadi asing. saat aq mulai berjalan kembali setelah keyakinan tentang sebuah tujuan menjadi terlihat jelas.. tapi masih samar  di ujung. dalam komposisi perspektifi titik hilang.
menekan setengah shutter. agar aq bisa mendapati fokus pada yang nyata didepan mata ini. melihat lukisan dibelakang geraian kerudung abu-abu yang kau tatap dengan pasti. but alone in silence. kesendirian dalam kediamanmu.
hanya saja bukan ahli, amatiran yang merangkak.
menjadikan semua abstrak. setengah garis melengkung keatas dari rupa berlesung itu.. titik fokus yang menerus menjadi lampion sewaktu keabstrakan memungkinkan akan terjadi.
mudah saja untuk tertawa, kau tahu ? aku sudah pernah mengatakannya. hanya saja lewat siratan mata yang terpejam untuk menatapmu, meski itu sekedar geraian abu-abu. punggung yang bersayap peri kecil.

sempat ku pada bulan
ketika padam menjelajah ruang
mematikan mata.
bukan tidak sulit. atau lebih mudah
tertegun pada diam sendiri
rasionalitas tetap pada logika
hanya saja nurani terkadang menjadi sayap logika
terbang, dan menjatuhkannya.
lebih tepat aku katakan ia baik-baik saja pada kerapuhannya
pada malam yang bersenggama dengan dingin
ketakutan-ketakutan menyeruak memori terekam
dan lahirlah kurcaci.kerdil

suatu ketika kurcaci terus berlari
atas batu dan pohon yang berakar pinak
asahan angin memipihkan memori terekam
naluri yang tumbuh dari patahan kerapuhan logika
ia pada senyatanya. mimpi
mimpi-mimpi yang didaur ulang oleh kenyataan
akan terus berlari dan mengejar senyatanya...
bahwa pada dunia yang ia rindukan
yang ia temui dalam angan mimpinya
pararelis kenyataan.

I*

Kalo mengingat yang sudah terjadi, dan waktu yang sudah berjalan.. perlahan aq mulai mengikhlaskan diri. mereka tidak tuli untuk mendengar keluhan. dan masih sanggup berbagi tentang cerita dunia.
ya.. sejaln dengan hal itu, pertumbuhan kesadaranku mulai terusik, coba bangkit dari sesal yang pernah ada. bangkit dan mulai percaya, ada suratan yang tertulis sejak aq belum terlahir.
sedikit membuat senyum, dan belajar menutup beberapa kemungkinan tentang diri sendiri, dan mengenal orang lain. ini adalah caraku menyeseuaikan diri dengan keadaan.
ingatanku tentang masa yang lalu, masih sangat tajam, masih mampu mengikis kesadaranku yang mulai bangkit.

terbesit untuk sekedar melihat, dan ingin tahu bagaimana "Dia yang pernah ada " melalui jalannya,
terbesit untuk sekedar berbagi dengan ia yang berada dekat dengan ceritanya, " si domar ", dan hanya cuapan angin yang keluar, shit happen !

prinsip ini aq pegang, karena aq tidak ingin main2 dengan apa yang menjadi jalanku...

catatan 14 Juli 2013.

Minggu, 05 Januari 2014

Terima Kasih

Dulu, aku pernah merasa iri. Mereka memiliki satu kesenangan tersendiri ketika memilikinya. Pun aku seperti itu, berandai seolah memilikinya. Bisa melakukan apa saja, membaca apa saja secara gratis, Cuma bayar paketan rental internet untuk mengunduh berbagai tulisan. Bagiku dulu, membeli buku bukanlah hal yang mudah. Sebuah keterbatasan financial dan kurang asupan hobi membaca. Melepas imajinasi dengan melihat film. Memaknai perasaan yang ada dengan music. Andai saja dulu bisa seperti itu.
Menurutku, Laptop adalah benda ajaib. Kita bisa melakukan apa saja dengannya. Kau bisa menulis kapan pun kau mau, tanpa terikat tempat. Yang berbeda dengan computer. Kau bisa membaca apa saja dengan gratis hanya dengan mngunduh tulisan-tulisan di internet. Lalu kau melepaskan lelahmu dengan lagu-lagu yang relaksasi. Kau bisa menonton video. Kau bisa meng-kepo seseorang yang kau sukai ( untuk ini kau hanya butuh jaringan internet), lalu kau copy image dan save di folder pribadi. Kau jadikan sebuah moment tertentu sebagai gambar muka. Lebihnya, kau bisa membawanya kemanapun dengan memasukkannya kedalam tas.
Ya.. ajaib menurutku. Karena kau bisa belajar banyak hal dengannya.
Ada seseorang yang aku hormati dikalangan teman. Ia sangat tau segala hal. Ia mudah diajak sharing. Dan seorang terpandang diantara kelompokku. Ketika ia menemukan hal baru, ia akan mencarinya. Membuatnya ada untuk dimengerti. Mencari pemahaman tentang hal itu,dan membacanya. Ia orang yang aktif untuk terus belajar. Aku ingin seperti Dia.
Lewat sebuah jejaring sosial. Facebook, mengantarkan aku pada rasa iri yang lebih besar. Ketika aku membaca sebuah tulisan. Dan mengulangnya lagi. Aku pikir itu hal yang luar biasa. Kau mengeluarkan semua isi otakmu dalam bentuk kata-kata. Dan deretan itu merasuki perasaanmu.  Aku baru menyadarinya. Baru saja, naas!.
Sebuah hal-hal sederhana dalam hidupmu, bisa kau abadikan dengan sebuah cerita kecil. Sebuah catatan pinggiran yang sederhana. Kuncinya, hanya perlu memaknai setiap moment itu. Hanya itu. Lalu lukislah dengan kata-kata yang berwarna indah.
Rasa iri yang pake banget. Memaksaku untuk sedikit rewel. Meminta benda ajaib itu untuk bisa berada ditangan. Memiliki seutuhnya.
Iseng aku memintanya. Dengan sebuah kemudahan, Ibuk mengiyakan. Alhamdulillah…
Dan inilah benda ajaib itu. Dan ini cerita pertama yang aku tulis.
Selamat tahun baru 2014. Selamat ulang tahun ke 23 untuk diri tubuhku.

1 Januari 2014.