Rabu, 29 Januari 2014

Menembak Keabstrakan

seketika menjadi asing. saat aq mulai berjalan kembali setelah keyakinan tentang sebuah tujuan menjadi terlihat jelas.. tapi masih samar  di ujung. dalam komposisi perspektifi titik hilang.
menekan setengah shutter. agar aq bisa mendapati fokus pada yang nyata didepan mata ini. melihat lukisan dibelakang geraian kerudung abu-abu yang kau tatap dengan pasti. but alone in silence. kesendirian dalam kediamanmu.
hanya saja bukan ahli, amatiran yang merangkak.
menjadikan semua abstrak. setengah garis melengkung keatas dari rupa berlesung itu.. titik fokus yang menerus menjadi lampion sewaktu keabstrakan memungkinkan akan terjadi.
mudah saja untuk tertawa, kau tahu ? aku sudah pernah mengatakannya. hanya saja lewat siratan mata yang terpejam untuk menatapmu, meski itu sekedar geraian abu-abu. punggung yang bersayap peri kecil.

sempat ku pada bulan
ketika padam menjelajah ruang
mematikan mata.
bukan tidak sulit. atau lebih mudah
tertegun pada diam sendiri
rasionalitas tetap pada logika
hanya saja nurani terkadang menjadi sayap logika
terbang, dan menjatuhkannya.
lebih tepat aku katakan ia baik-baik saja pada kerapuhannya
pada malam yang bersenggama dengan dingin
ketakutan-ketakutan menyeruak memori terekam
dan lahirlah kurcaci.kerdil

suatu ketika kurcaci terus berlari
atas batu dan pohon yang berakar pinak
asahan angin memipihkan memori terekam
naluri yang tumbuh dari patahan kerapuhan logika
ia pada senyatanya. mimpi
mimpi-mimpi yang didaur ulang oleh kenyataan
akan terus berlari dan mengejar senyatanya...
bahwa pada dunia yang ia rindukan
yang ia temui dalam angan mimpinya
pararelis kenyataan.

2 komentar:

  1. sekedar kritik.. kalo mau menambahkan kata dengan bahasa selain Indonesia, pake huruf miring ya.. :)
    kamu bagus gitu nulis..
    lanjutkaaaaan... !!! \(^o^)9

    BalasHapus
  2. ee...hrus pake aturan gt juga ya?
    hee..mkasih wes,..

    BalasHapus