Kamis, 13 Februari 2014

Angan-angan dan Kenangan



Akhirnya aku tiba pada suatu malam. Seperti waktu-waktu terdahulu. Berada dijalanan yang sepi, tanpa bulan, tanpa bintang, dan tanpa kemolekan-kemolekan manusia. Ini adalah tempat dimana aku merajainya. Suatu malam.
Dan aku lihat lampu-lampu kota berkuasa menggantikan cahaya langit, menembus sisi abadi malam. Aku suka warna ini. Warna antara gelap dan terang saling meraba satu sama lain. Menyisakan satu sudut redup dipinggir jalan.
Barisan angin bergerak terus maju, menembus kegelapan tanpa menghiraukan kegelisahan yang berdiam didiriku. Sesekali ia hanya menoleh, dan itu cukup untuk mengusik kediamannya.
Malam ini adalah malam ketiga dalam sesion pelatihan PRUfast start, suatu program kerja dari Prudential dalam mencari mitra bisnis. Sebenarnya kita dilatih untuk menjadi agen dari system kerja yang dibangun prudential. Mitra bisnis, menurutku, hanya istilah samaran untuk mengganti kata pegawai. Ya, kita di training selama 4 hari berturut-turut dan tidak boleh absen satu haripun. Kita dilatih untuk menjadi ujung tombak perusahaan, menjadi sales marketing untuk produk asuransi. Banyak macamnya, sejak awal sampai malam tadi, hanya sedikit yang bisa aku cerna dari materi yang diberikan. Memang, prudential adalah perusahaan asuransi terbesar di Indonesia, sekilas yang aku simpulkan, Ia sangat membutuhkan kejujuran dari nasabahnya. Sebutan untuk pemakai jasa asuransi. Hal ini berarti ada sedikit kekurangan dari prudential, atau mungkin tidak ada, karena sebuah perusahaan, bagaimanapun alibinya untuk menolong seseorang, pasti sangat membutuhkan keuntungan. Profit yang bisa didapat pegawai baru, untuk satu nasabah memang sedikit, tetapi, hal ini bergantung pada seberapa besar nilai uang yang di investasikan atau ditabung nasabahnya. Banyak pegawai-pegawai perusahaan swasta, seperti bank, meskipun jabatannya tinggi, beralih menjadi mitra bisnis prudential, dan mereka sukses dengan banget.
Kemudian sudut ini mengajakku mereview beberapa angan dan kenangan. Tentang sang mantan yang sampai sekarang, selalu aku tunggu kemunculannya di inbox untuk “ heh..y opo kabarmu ?”.  sangat aku tunggu. Lanjut pada suatu obrolan yang panjang, berseling tawa-tawa kecil dan berakhir dengan baik-baik saja. Semoga benci itu hilang.
Terus, terus berangan tinggi sampai pada suatu hari tanpa bisa dinyana, kalung ini kau terima lagi, kau memaafkan, dan berteman lagi seperti dulu, mendekatimu lagi dengan segala macam warna baru yang lebih baik, tertawa lagi, menghabiskan sore diantara matras bumi yang hijau ketika musim panas, atau bermain dengan hujan dan kau bersembunyi dibalik jubah anti air..” wa wa wa wa…” hahaha… kau lucu manis.
Kita bersama, seperti sebuah janji yang sempat kita ikrarkan.
Tapi hal itu cepat saja berlalu, terseret barisan angin yang dingin.
Bagaimana seumpama aku menjadi kaya ?
Aku punya banyak uang untuk membeli apa saja, makan sepuasnya. Setelan kemeja baru dengan warna gelap. Celana panjang sedikit berpensil, dan jika beruntung aku bisa mendapatkan jaket gunung murah, tapi bagus, di Babebo Jubung.
Matahari atau nico atau roxy bukan kelas yang aku suka. Yahh.. meskipun saat itu aku kaya. Tapi minat dan kebutuhanku, seperti kacang yang sayang sama kulitnya. Hehehe...
Prudential menjanjikan jaminan kehidupan yang baik. Sangat baik malah. Yang dibutuhkan hanya kemauan keras, rajin dan keberuntungan. Kalau sudah kena hal seperti ini, jatah waktu bermalas-malasan jadi berkurang.
Oalah… man-eman!
Ya, seumpama aku jadi kaya… banyak hal yang akan berubah. Sesuatu yang baik atau mungkin juga buruk. Kadang aku berpikir, untuk apa orang-orang selalu berusaha mengejar kesuksesan, atau memandang kaya=sukses. Bagaimana prinsip hidup seperti ini bisa terjadi dan menjadi kenyataan ?
terlepas dari peran sebagai makhluk social yang harus memikirkan si miskin dan si bodoh. Egag, ini bukan tentang hal itu.  Ini tentang,…. Angan-angan dan kenangan.
Sekali-kali, aku ingin punya Vespa.. gakpapa meski itu rongsok, aku menyukainya, semoga.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar