Akhirnya aku
tiba pada suatu malam. Seperti waktu-waktu terdahulu. Berada dijalanan yang
sepi, tanpa bulan, tanpa bintang, dan tanpa kemolekan-kemolekan manusia. Ini
adalah tempat dimana aku merajainya. Suatu malam.
Dan aku
lihat lampu-lampu kota berkuasa menggantikan cahaya langit, menembus sisi abadi
malam. Aku suka warna ini. Warna antara gelap dan terang saling meraba satu
sama lain. Menyisakan satu sudut redup dipinggir jalan.
Barisan
angin bergerak terus maju, menembus kegelapan tanpa menghiraukan kegelisahan
yang berdiam didiriku. Sesekali ia hanya menoleh, dan itu cukup untuk mengusik
kediamannya.
Malam ini
adalah malam ketiga dalam sesion pelatihan PRUfast
start, suatu program kerja dari Prudential dalam mencari mitra bisnis.
Sebenarnya kita dilatih untuk menjadi agen dari system kerja yang dibangun
prudential. Mitra bisnis, menurutku, hanya istilah samaran untuk mengganti kata
pegawai. Ya, kita di training selama
4 hari berturut-turut dan tidak boleh absen satu haripun. Kita dilatih untuk
menjadi ujung tombak perusahaan, menjadi sales marketing untuk produk asuransi.
Banyak macamnya, sejak awal sampai malam tadi, hanya sedikit yang bisa aku
cerna dari materi yang diberikan. Memang, prudential adalah perusahaan asuransi
terbesar di Indonesia, sekilas yang aku simpulkan, Ia sangat membutuhkan
kejujuran dari nasabahnya. Sebutan untuk pemakai jasa asuransi. Hal ini berarti
ada sedikit kekurangan dari prudential, atau mungkin tidak ada, karena sebuah
perusahaan, bagaimanapun alibinya untuk menolong seseorang, pasti sangat
membutuhkan keuntungan. Profit yang bisa didapat pegawai baru, untuk satu
nasabah memang sedikit, tetapi, hal ini bergantung pada seberapa besar nilai
uang yang di investasikan atau ditabung nasabahnya. Banyak pegawai-pegawai
perusahaan swasta, seperti bank, meskipun jabatannya tinggi, beralih menjadi
mitra bisnis prudential, dan mereka sukses dengan banget.
Kemudian
sudut ini mengajakku mereview
beberapa angan dan kenangan. Tentang sang mantan yang sampai sekarang, selalu
aku tunggu kemunculannya di inbox
untuk “ heh..y opo kabarmu ?”. sangat
aku tunggu. Lanjut pada suatu obrolan yang panjang, berseling tawa-tawa kecil
dan berakhir dengan baik-baik saja. Semoga benci itu hilang.
Terus, terus
berangan tinggi sampai pada suatu hari tanpa bisa dinyana, kalung ini kau
terima lagi, kau memaafkan, dan berteman lagi seperti dulu, mendekatimu lagi
dengan segala macam warna baru yang lebih baik, tertawa lagi, menghabiskan sore
diantara matras bumi yang hijau ketika musim panas, atau bermain dengan hujan
dan kau bersembunyi dibalik jubah anti air..” wa wa wa wa…” hahaha… kau lucu
manis.
Kita
bersama, seperti sebuah janji yang sempat kita ikrarkan.
Tapi hal itu
cepat saja berlalu, terseret barisan angin yang dingin.
Bagaimana
seumpama aku menjadi kaya ?
Aku punya
banyak uang untuk membeli apa saja, makan sepuasnya. Setelan kemeja baru dengan
warna gelap. Celana panjang sedikit berpensil, dan jika beruntung aku bisa
mendapatkan jaket gunung murah, tapi bagus, di Babebo Jubung.
Matahari
atau nico atau roxy bukan kelas yang aku suka. Yahh.. meskipun saat itu aku
kaya. Tapi minat dan kebutuhanku, seperti kacang yang sayang sama kulitnya.
Hehehe...
Prudential
menjanjikan jaminan kehidupan yang baik. Sangat baik malah. Yang dibutuhkan
hanya kemauan keras, rajin dan keberuntungan. Kalau sudah kena hal seperti ini,
jatah waktu bermalas-malasan jadi berkurang.
Oalah…
man-eman!
Ya, seumpama
aku jadi kaya… banyak hal yang akan berubah. Sesuatu yang baik atau mungkin
juga buruk. Kadang aku berpikir, untuk apa orang-orang selalu berusaha mengejar
kesuksesan, atau memandang kaya=sukses. Bagaimana prinsip hidup seperti ini
bisa terjadi dan menjadi kenyataan ?
terlepas dari peran sebagai makhluk social yang harus memikirkan si miskin dan si bodoh. Egag, ini bukan tentang hal itu. Ini tentang,…. Angan-angan dan kenangan.
terlepas dari peran sebagai makhluk social yang harus memikirkan si miskin dan si bodoh. Egag, ini bukan tentang hal itu. Ini tentang,…. Angan-angan dan kenangan.
Sekali-kali,
aku ingin punya Vespa.. gakpapa meski itu rongsok, aku menyukainya, semoga.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar