Selasa, 18 Maret 2014

Intermezo

Hanya helaan pendek, masih menyisakan tanda tanya
kesekian kali, waktu mengikat nafasku untuk berlalu menjelajahi malam.
terus mengekor tanpa bisa berhenti menemukan satu jawaban sederhana
basa basi dalam  sebuah tulisan tidak cukup berharga untuk terus dibaca berulang kali
barang kali otakku sudah tumpul untuk mengartikan keramaian ini
dibalik tawa-tawa renyah dan kedukaan manis, selalu ada satu sudut gelap
seperti memiliki medan magnet yang sangat kuat, kuat sekali untuk memutus mata rantai kehidupan.
sekali lagi, Kehidupan.
dogma-dogma rasionalitas selalu menentang keberadaan yang menggelapkan.
mereka berkutat dengan teori-teori untuk membangun struktur cahaya yang megah, yang sangat terang untuk menerangi jagat raya
seandainya aku mampu menerimanya
seandainya kita memiliki satu lintas untuk membangun sebuah jembatan.
sayangnya kita adalah keberadaan yang berbeda satu sama lain.
seorang sahabat yang tidak pernah aku kenal pernah berkata, kecuali dalam cinta kita berbeda.
ya, cinta mampu membangun peradaban yang super megah antara gelap dan terang, hitam dan putih, tawa dan duka, kesendirian dan kebersamaan. bahagia.

huuff... sekali lagi satu tarikan pendek mengikuti arus perubahan ini.

aku suka sudut antara gelap dan terangnya lampu jalan, yang menyisakan keredupan warna oranye tua.
dibawahnya aku bisa menikmati bulan yang sedang mekar di pertengahan Maret, atau terkadang gelisah karena awan sibuk berjalan-jalan dihadapannya. seperti ia merindukan bumi untuk bermandikan cahaya.

apa ? kau masih saja tidak tahu
apa kau pura-pura bodoh dan tuli
mendengar jeritan kemiskinan saja kau sanggup
atau mungkin kau buta ?
bagaimana nurani menuntunmu ?
cerita-cerita nyata adalah dongeng berlapis emas
aku hanya ingin bangun didalam Cinta

Aku menyayangimu
aku, kau, mereka, kita
terbentuk rasa yang akan mati
dalam wujud kediaman...

sekali lagi, itu aku..

Tidak ada komentar:

Posting Komentar