Minggu, 22 Juni 2014

Sesuatu itu terjadi



Hari ini dirimu dirumah. 2 hari lalu kau mengeluh kau ingin pulang, kangen dengan keluargamu, terutama adek kecilmu yang masih 7 tahun.  Sudah beberapa minggu kau tidak pulang, sibuk dengan tugas dan praktikum kuliah. Itu lebih baik, pulang lah jawabku.

Kemarin aku mengantarmu ke terminal. Ditengah perjalanan ada hujan yang menunggu. Kita berteduh di warung bakso pinggir jalan dekat pasar besar dikota kita ini. Seperti biasa, kita selalu melewatkan kesempatan dalam kesempitan seperti ini dengan bercanda. Hujan enggan untuk beralih tempat, kau memaksa untuk berangkat daripada kemaleman nyampe rumah. Baiklah..

Beruntung, hujan tidak terlalu deras ketika dekat dengan terminal. Setidaknya kau tidak basah kuyup seperti anak kucing masuk bak mandi. “Ati-ati dijalan, kalau sudah sampai jangan lupa kabari aku “ pesan yang selalu aku sampaikan ketika kita berpisah diterminal.
Lebih baik aku juga segera pulang kerumah, beberapa hari kantongku sudah tipis. Selain itu, ibuk juga menyuruhku untuk pulang.

Aku menunggu hingga malam tapi belum ada kabar darimu, biasanya kau selalu mengirim satu pesan pendek  ketika sudah sampai di pintu palang kereta api. Tempat biasa kau dijemput sama bapak atau kakakmu. Aneh, berulang kali aku menghubungimu tapi tidak ada respon. Aku biarkan saja handphone diatas meja.
Malam sudah hampir larut, tiba-tiba kau merespon pesan ku. Kau hanya bilang, sejak dari tadi hp mu dipegang ariel, adik kesayanganmu untuk maen game. Kau mengobrol banyak dengan keluargamu, katamu, mumpung lagi ngumpul dengan nenekmu dan saudara-saudaramu yang lain.  Aku minta maaf sudah marah, jawabku. Aku hanya khawatir saja karena kau bersikap tidak seperti biasa.

Sesuatu itu, seperti tidak biasa datang menjadi rasa yang tidak mengenakan....

Tidak ada kelanjutan seperti malam-malam biasanya. Kita hanya berhenti sampai pada pengakuanmu tentang kau yang tidak sempat menghubungiku ketika sampai dirumah. Sesuatu itu mulai terasa lagi..

Hari ini kita tidak banyak bicara. Sudah sejak tadi pagi aku menghubungimu, tapi tidak ada jawaban. Kau hanya sekali menjawab hpmu lagi-lagi dibuat maenan Ariel. Satu pesan pendek setelah itu menguatkan kekhawatiranku. Kau sudah berada didalam bis, dalam keberangkatanmu ke kota ini. Biasanya kau selalu berpamitan sebelum kau berangkat, agar aku bisa menjemputmu tidak telat waktu.

Aku masih dirumah. Keputusanmu membuatku berangkat lebih awal untuk menjemputmu. Kau selalu merasa sebal kalau aku telat menjemputmu, meskipun dalam hitungan menit akan kembali mencair. Seperti kemarin, hari ini hujan sudah bangun lebih awal.

Diterminal, kau menghampiriku dengan wajah yang lain. Wajah yang kebingungan, wajah yang menampakkan seolah kau tidak ingin hari ini aku tidak datang menemuimu, wajah yang menyiratkan kau ingin menikmati hujan ini sendirian. Jarak yang menyimpulkan, sesuatu itu akan segera terjadi..

Kau mengeluh kepalamu pusing, hanya ingin segera tiduran dikosn. Kau memaksa menembus rimba hujan, dan jarak yang kau buat menambah tanda tanya dalam pikiranku. Didepan kosmu, begitu saja kau menyuruhku pulang, segera ganti baju biar tidak sakit. Aku hanya mengiyakan permintaanmu.

Sejak sore aku berusaha menghubungimu, lagi-lagi suasana menjadi dingin seperti kemarin. Sampai waktu beranjak malam, kita menghabiskan kata sepengal-sepenggal. Biasanya kau menyuruhku mengapelimu dan membawa sebungkus makan untuk kita berdua. Itu pintamu hampir setiap malam. Kata-kata menjadi sangat bermakna biasanya, bercerita tentang apa saja, tentang malam, hujan, sawah, impian, harapan.. semua hal menjadi manis ketika rasa adalah dasar yang kita gunakan untuk berbicara. Malam ini, tidak sama seperti malam-malam itu..

Tidak ada komentar:

Posting Komentar