Anugerah terbesar yang
diberikan Allah bagi manusia adalah
Hidup.
Aku masih ingat dengan wejangan yang Bapak berikan ketika
kami mengikuti kajiannya. Diwaktu-waktu tertentu, aku mengikuti kajian tentang
sebuah jalan kebenaran. Ya, sebuah jalan yang membawa kami untuk berada dijalan
yang benar dan lurus diantara gelap dan terang, ada dan tiada, benar dan salah,
senang dan susah. Tujuan kami diujung hanya satu, Sang Cinta Sejati.
Beliau bukan bapak yang darinya aku lahir dari rahim ibu.
Beliau adalah orang tua dari salah satu yang aku sebut kami. Seorang teman.
Beliau seorang bapak yang sangat bijaksana, (menurutku ). Wajahnya menampakkan
kedamaian seorang manusia ditengah himpitan dinding zaman. Ya, beliau seorang
orang tua yang bijak.
Baiklah, aku rasa aku
gag perlu menuliskan tentang jalan kebenaran itu sepenuhnya dan tentang siapa
bapak sebenarnya. Karena ini adalah salah satu yang bapak ajarkan pada kami.
Aku suka menikmati pemandangan. Apapun itu tentang alam.
Tentang langit. Tentang laut. Tentang gunung dan hutan. Tentang awan. Tentang
angin.. ya, alam memberikan aku pengetahuan yang masuk kedalam jiwa. Suatu
anugerah bagiku. Karena darinya aku berangkat untuk menjadi pecinta alam.
Aku hanya merasa tidak nyaman ketika harus melihat banyak kendaraan.
Jalan raya yang dipenuhi mobil, sepeda, sampah, jalanan yang macet, toko-toko
besar yang menghiasai pinggiran jalan.
Aku kurang nyaman dengan keramaian.
Entah karena apa, aku hanya merasa dalam waktu yang hanya
sebentar. Aku merasakan kenikmatan dari Allah. Kenikmatan memiliki sepasang
mata untuk melihat. Untuk menikmati kesempurnaan kebesaran Allah. Hanya ketika
aku melihat buntut truk besar. Ya, sebuah benda yang aku kurang suka dengan
keberadaannya, yang sangat besar, yang memberikan asap hitam disepanjang jalan.
Tapi, darinya meskipun hanya sebentar, muncul kesadaran “ ini lho kenikmatan
memiliki sepasang mata”.
Sulit untuk menginterpretasikan perasaan saat itu. Tapi ini
lah yang bisa aku sampaikan tentang Rasa Nikmat yang Maha Besar.
Ketika RASA itu hilang, aku berusaha melihat buntut truk itu
lagi, ketiadaan rasa itu datang. Ya, tidak seperti sebelumnya. Subhanallah..
***
Aku lupa kapan hal itu terjadi. Yang aku ingat, waktu itu
aku sudah bergaul dengan sesuatu yang tidak wajar bagi sebagian orang. Sesuatu
yang tidak terlihat tapi nyata ada. Hukum Metafisika.
Metafisikia mempelajari tentang sebuah energy yang mengatur,
atau mengendalikan dan memberikan pengaruh terhadap benda sekitar. Sebagai
contoh, prasangka. Jika kita mampu berprasangka baik atas hal buruk yang
terjadi dengan kehidupan, alam akan memberikan respon yang baik pula terhadap
keberadaan kita. Terhadap sebuah air, pernah dilakukan sebuah penelitian. Air
yang kita sering mengatakan sesuatu yang buruk padanya, partikelnya akan
berbeda ketika kita mengatakan sesuatu yang baik.
Disinilah hukum metafisika berlaku. Energy kebaikan maupun
keburukan akan memberikan pengaruh terhadap kualitas air.
Pun begitu, berusahalah berprasangka baik terhadap segala
yang kita terima. Jika kau mempercayai Kuasa Tuhan itu ada, Tuhan tidak pernah
memberikan sesuatu yang buruk terhadap makhluknya. Ia Maha Sempurna atas segala
rencana-Nya.
Ya, inilah anugerah terbesar untuk kita. Hidup.
Karena dengan anugerah ini, kita mampu melakukan banyak hal,
menyayangi, mencintai, berterima kasih kepada bapak atau ibuk. Memakan camilan
kwaci yang membutuhkan kesabaran untuk menikmatinya. Merasakan jari-jari yang
bergerak ketika menulis. Kelopak mata yang berkedip dengan sendirinya ketika
lelah membaca tulisan ini. Dan otak yang berpikir untuk menyetujui atau kurang
setuju dengan tulisan ini.
Bukankah hal ini terjadi ketika kita hidup ?
Bersyukurlah..
Bersyukurlah..
Semoga bermanfaat.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar