Aku sering melihat, orang-orang mengalihkan
perhatian mereka dari suatu masalah ke dalam sebatang tubuhmu. Entah kaum hawa atau adam, sama saja. Banyak
orang tua yang melarang anaknya yang alit untuk memakai tubuhmu. Katanya tidak
sehat, katanya bisa bikin tindakan kriminal, katanya daripada dipakai untuk membelimu
lebih baik ditabung saja, katanya dilarang agama, nanti dosa. Bisa-bisa karena
ketagihan, katanya bisa merangsang si anak untuk mencuri.
Memakaimu itu seksi, memakaimu itu keren, memakaimu bisa percaya diri, mencumbumu itu sebuah pengakuan. Bahwa dirimu memang keren, seksi, dan mereka bisa puas atas sebuah pengakuan dari lingkungan.
Aku lupa bagaimana mengawalinya. Saat itu tubuh putihmu merayuku. Tidak seperti biasanya, aku yang ogah-ogahan menghampiri nafas yang sering menyebar di udara. Bersatu dengan udara yang semestinya aku telan, tanpamu. Kali ini aku terima saja saat dirimu menjamuku dengan nafasmu, ketika aku membutuhkan sunyi. Dan seorang teman yang sedang mencumbumu.
Aku ragu. Untuk menarikmu dalam cumbuanku atau melepas kenangan yang lalu, sebuah janji untuk tidak lagi menyentuh barang “ haram “ sepertimu. Yang aku tau saat itu, dia sudah tidak disini bersama kita lagi, dia bersama kebahagiaan yang lain. Ini bukan tentang rasa gelisah karena kenangan. Tapi tentang hak dan nilai yang masing-masing orang pegang atas apa yang mereka ingin lakukan. Sebuah kehendak bebas bersamamu yang dulu tidak aku miliki ketika bersamanya.
Malam itu, aku tepi kan ketakutan akan janji itu. Kutarik tubuhmu dalam pelukan jari-jariku. Kita bercumbu, dan kulepas asap hangat dari tubuhmu. Kau berhasil dengan rayuanmu.
Sampai saat-saat ini kita sering bersama dalam keheningan, dimana aku berusaha menjawab keganjilan tentang sesuatu yang aku sendiri tidak pernah tau. Apakah karena kegelisahan yang menjadikanku tertarik padamu ? sebagai pelarian dari masalah yang belum aku pecahkan. Tidak. Itu jawaban hatiku ketika orang-orang memergokiku sedang mencumbumu, dan mencemoohnya. Aku hanya ingin, sebatas ingin dan tidak lebih.
Bagaimanapun, terkadang aku merasa aman ketika ada dirimu disisiku. Entah ketika kau bersama lelaki lain, dan kemudian aku memintamu darinya. Atau aku membelimu dari sisa uang saku dan berbagi dengan lelaki lain.
Saat ini, seperti itu...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar